Selasa, 10 Januari 2012

TAHRIF AL QURAN ( SUNNI VS SYIAH )

Telah kita ketahui bahwa Allah mengutus Muhammad Saww kebumi ini tujuannya untuk membimbing manusia kepada jalan yang di ridhoi Allah semata, Allah menurunkan quran kepada Muhammad Saww adalah sebagai Hujjah bagi umat islam khususnya dan bagi makhluk sealam dunia pada umumnya sejak ia diturunkan sampai hari kiamat. Akan tetapi dalam masalah keontentikan Al quran ada banyak hadist-hadist serta kitab-kitab yang bersumber dari kalangan muslim sunni dan muslim syiah yang menyebutkan jika alquran telah mengalami perubahan serta pengurangan-pengurangan. dan ketika saya teliti memang benar demikian adanya, lalu apa yang salah dengannay.........? Bukankah Allah telah berfirkan dalam surat Al Hijr ayat ke-9 :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya"
Jadi kita wajib menolak tengan tegas adanya tahrif quran meski mereka berarguman pada hadist-hadist, baik yg bersumber dari sunni maupun syiah


Jadi ayat ini merupakan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya.

Dalam kitab-kitab sahih serta lainnya ulama' sunni menyebutkan serta meriwayatkan bahwa adanya bentuk TAHRIF/PENYELEWENGAN Alquran dan diantaranya adalah sebagai berikut :



TAHRIF DALAM LITERATUR SUNNI

1. Umar : jumlah huruf Al Qur’an 1.027.000 !

Umar bin al Khaththab, ia berkata, “Nabi Muhammad saw. bersabda:

القرْآنُ أَلْفُ أَلْفِ حَرْفٍ وَ سَبْعَةٌ و عِشْرُونَ ألفِ حَرْفٍ، فَمَنْ قَرَأَهُ مُحْتَسِبًا فَلَهُ بِكُلِّ حرفٍ زَوْجَةٌ مِنَ الْحُوْرِ العِينِْ.

“Al Qur’an itu adalah terdiri dari sejuta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.”

( Ad Durrul Mantsur,6/422 )

Para ulama Ahlusunnah menyebutkan bahwa bilangan huruf Al Qur’an yang sekarang tersisa di kalangan umat Muslim-pengikut Muhammad- berkisar antara: 323015 huruf, atau 321000 huruf, atau 340740 huruf ( Al Burhân Fî ‘Ulûmil Qur’ân,1/314-315. cet. Dâr al Kotob al Ilmiah. Lebanon. Thn.1988 )

Itu artinya jumlah ayat Al Qur’an yang hilang sebanyak lebih dari 686260 huruf. Pertanyaan kita ialah kemana hilangnya ribuan ayat – ayat itu ?.

2.Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW : Utsman menghilangkan ayat Al Qur’an

Istri Rasulullah Muhammad SAW, Aisyah RA, telah ‘menuduh’ Utsman menghilangkan ayat – ayat suci Al Qur’an ketika beliau menuliskan mushaf – mushaf Al Qur’an.

Urwah-keponakan Aisyah, istri Muhammad- meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata:

كانَتْ سورَةُ الأحزابِ تُقْرَاُ في زمَنِ النبيِّ (ص) مِئَتَيْ آيَة، فَلَمَّا كتَبَ عثْمانُ المصاحِفَ لَمْ نَقْدِرْ مِنْها إلاَّ ما هُوَ الآنَ.

“Dahulu surah Al Ahzâb itu dibaca di sama hidup Nabi sebanyak dua ratus ayat. Lalu setelah Utsman menulis mush-haf mush-haf kita tidak bisa membacanya kecuali yang sekarang ada ini.” ( Al Itqân,2/25 )

Jumlah ayat surah Al ahzâb (surah dengan urutan 33 dalam Al Qur’an) yang ada dalam mushaf umat Muslim sekarang hanya 73 ayat. Itu artinya ada 127 ayat hilang

3. Beberapa ayat tidak ada di dalam Al Qur’an sekarang ini !.

Imam Muslim dalam Shahih-nya meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Abu al Aswad Dzâlim ibn ‘Amr, ia berkata, “Abu Musa al Asy’ari mengutus seorang untuk mengumpulkan para ahli Al Qur’an kota Bashrah, tiga ratus ahli Al Qur’an datang menemuinya, semuanya telah menghafal Al Qur’an. Lalu Abu Musa berkata, ‘Kalian adalah paling baiknya penduduk kota Bashrah dan ahli Al Qur’an di antara mereka. Maka bacalah ia, jangan sampai panjang waktu berlalu atas kalian (tanpa membacanya), karena hati kalian akan mengeras, seperti mengerasnya hati kaum sebelum kalian.

Kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan surah Barâ’ah dalam panjang dan keras muatannya, tetapi aku lupa terhadapnya, hanya yang masih aku hafal adalah ayat: “ Seandainya anak Adam mempunyai harta satu lembah atau dua lembah, niscaya ia masih ingin memiliki lembah harta yang ketiga dan perut anak Adam tidak akan kemyang kecuali diisi dengan tanah”

Dan kami dahulu membaca sebuah surah yang kami serupakan dengan salah satu surah musabbihât, hanya saja aku lupa selain satu ayat yang masih aku hafal :

“Hai orang – orang yang beriman, mengapa kalian senantiasa mengatakan sesuatui yang sebenarnya tidak kalian lakukan. Hal itu akan ditulis di leher kalian sebagai saksi dan kalian akan ditanyai tanggung jawab kelak di hari kiamat”

( Shahih Muslim,3/100, Kitab az Zakâh, Bab Karâhiyatu al Hirshi ‘Ala ad Dunya. Dan dengan syarah An Nawawi pada,7/139-140 dan al Itqân,2/25 dengan hanya menyebut bagian akhir hadis saja )

Apakah kedua ayat di atas masih terdapat di dalam Al Qur’an kita sekarang ini ?.

4. Umar dan ayat Rajam

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., “Ia berkata, ‘Umar berkata dari atas mimbar, “Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan kepadanya sebuah kitab. Salah satu ayat yang diturunkan adalah ayat rajam, lalu kami menyadari sepenuhnya. Itulah sebabnya Rasulullah saw. malakukan perajaman, dan setelah beliau wafat kami melakukan hal yang sama. Lalu aku khawatir jika berlalu beberapa masa orang-orang akan mengatakan: ‘Demi Allah, kami tidak menemukan ayat rajam dalam kitab Allah.’ Kemudian dia menjadi sesat dengan tindakannya meninggalkan hukum wajib, farîdah yang diturunkan oleh Allah… Rajam itu ada di Kitabullah, ia adalah haq/wajib diberlakukan atas seorang baik laki-laki maupun wanita yang berzina jika ia telah menikah apabila telah tegak bukti atasnya…. Kemudian kami pernah membaca dalam sebuah ayat yang berbunyi:

لاَ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ فَإِنَهُ كُفْرٌ بكُمْ أنْ تَرْغَبُوا عَنْ آبائِكُمْ .

“Jangan kamu menisbatkan dirimu kepada selain ayah-ayah kandungmu, karena kafirlah apabila kamu menisbatkan kepada selain ayah-ayahmu.”

( Shahih Bukhari, Kitabul Muhâribîn, Bab Rajmul Hublâ idza ahshanat (merajam orang yang hamil yang berzina jika ia telah menikah),8/208, Shahih Muslim,Kitabul Hudûd, Bab rajmu ats Tsayyib min az Zinâ (merajam janda apabila berzina), 5/116. )

Pertanyaan kita ialah apakah ayat ( la targhobun ‘an abaikum… ) tersebut ada di dalam Al Qur’an kita sekarang ini ?. Kalau ada, di surah dan ayat keberapa adanya ayat tersebut ?.

Tentang ayat Rajam yang disebut – sebut Umar RA. Ada yang mengaatakan bahwa ayat tersebut adalahmansukhul lafdzi (secara lafaz terhapus) akan tetapi baqaa’ul hukmi ( hukum tetap ada ).

Benarkah ayat tersebut ‘mansukh lafdzi, baqaa’ul hukmi’ ?. Mari kita lihat beberapa riwayat



Dalam beberapa riwayat lain yang melaporkan pidato Khalifah Umar di atas terdapat redaksi tambahan yang mengatakan:

وَ ايْمُ اللهِ! لَوْ لا أَنْ يقولَ الناسُ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُها.

“Andai bukan karena takut manusia berkata, ‘Umar menambah dalam Kitab Allah- Azza wa Jalla- pastilah aku tulis ayat itu.” ( Nushbu ar Râyah; az Zaila’I al Hanafi,3/318 ).



Imam an Nasa’i juga meriwayatkan dalam kitab as Sunan al Kubrâ-nya dengan sanad shahih dari Abdurrahman ibn ‘Auf, ia berkata, “Umar berpidato, lalu berkata, ‘….. . Mereka juga berkata Rajam? Sungguh Rasulullah saw. telah merajam dan kamipun merajam. Dan Allah telah menurunkan (ayat Rajam) dalam Kitab-Nya.

وَ لَوْ لا أَنْ الناسُ يقولُونَ زادَ عُمَرُ في كتابِ اللهِ عزَّ و جَلَّ لَكَتَبْتُهُ بِخَطِّيْ حَتَّى أُلْحِقُهُ بالكتابِ.

“Andai bukan karena manusia mengatakan Umar menambah-nambah dalam Kitab Allah pasti aku telah menulisnya dengan tulisanku sendiri sehingga aku gabungkan dengan Kitabullah.” ( As Sunan al Kubrâ,4/272 hadis no.7151 )



Dalam riwayat lain, juga dalam as Sunan al Kubrâ dengan redaksi:

لولا أنْ يقولوا أثْبَتَ في كِتابِ اللهِ ما لَيْسَ فِيْهِ لأُثْبِتُها كما أُنزِلَتْ

“Andai bukan karena manusia akan berkata, ‘ia menetapkan dalam Kitab Allah sesuatu yang bukan darinya, pastilah aku akan tetapkan sebagaimana ia diturunkan.” ( As Sunan al Kubrâ,4/273 hadis no.7154 )

Jadi, Umar tetap berkeyakinan bahwa ayat Rajam itu termasuk bagian dari ayat – ayat suci Al Qur’an. Sebetulnya dia ingin memasukkan ayat itu ke dalam kitab suci Al Qur’an sebagaimana ketika ia diturunkan, namun tidak jadi karena khawatir atau takut orang banyak akan menuduhnya menambah – menambah ayat yang bukan berasal dari Al Qur’an.

Umar masih tetap ngotot untuk memasukkan ayat rajam ke dalam Al Qur’an, namun ditolak oleh sahabat Nabi yang lain. Perhatikan riwayat berikut.

Laits ibn Sa’ad melaporkan, “Orang pertama yang mengumpulkan Al Qur’an adalah Abu Bakar dengan bantuan Zaid… dan Umar datang membawa ayat rajam tetapi Zaid tidak menulisnya, sebab ia datang sendiri (tanpa seorang saksi).” ( Al Itqân,1/121 ).

Tentang Surah Al-Lail

Dari Qabshah ibn Uqbah yang berasal dari Ibrahim ibn Al-Qamah. Ia berkata kepada kami: “Saya bersama pengikut Abdullah ibn Ubay datang ke Syam. Abu Darda’ yang mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya: ‘Adakah di antara kalian yang membaca Al-Quran?’ Orang-orang menunjuk saya. Kemudian ia berkata: ‘Bacalah!’ Maka saya pun membaca: Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wadzdzakraa wal-untsaa… Mendengar itu dia bertanya: ‘Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu Abdullah ibn Ubay?’ Saya menjawab: ‘Ya.’ Ia melanjutkan: ‘Saya sendiri mendengarnya dari mulut Nabi SAW. Dan mereka menolak untuk menerimanya’.” (Shahih Bukhari, Kitab At-Tafsir, bab Surah wal-Laili idzaa yaghsyaa; pada catatan kaki As-Sanadiy, jilid III, hlm. 139; jilid VI, hlm. 21; jilid V, hlm. 35; Musnad Ahmad, jilid VI, hlm. 449, 451; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 358 dari Said ibn Manshur, Ahmad Abd ibn Hamid, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Marduwaih, Ibn Al-Qamah, dll.) Padahal yang tertulis dalam Al-Quran sekarang adalah Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wamaa khalaqadzdzakraa wal-untsaa…

Ayat Rajam

Umar ibn Khaththab berkata: “Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah (ayat) ke dalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” (Shahih Bukhari, bab Asy-Syahadah ‘indal-Hakim fi Wilayatil-Qadha; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25-26; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid I, hlm. 230; jilid V, hlm. 179 dari Imam Malik, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Dhurais, dan hlm. 180 berasal dari Nasa’i, Ahmad, Ibnu Auf; Musnad Ahmad, jilid I, hlm. 23, 29, 36, 40, 43, 47, 50, 55; jilid V, hlm. 132, 183; Hayat Ash-Shahabah, jilid II, hlm. 12; jilid III, hlm. 449) Jadi, Umar meyakini Ayat Rajam itu ada dalam Al-Quran, tapi kenyataannya tidak ada. Tapi Umar tidak menulisnya karena takut ucapan orang-orang bahwa Umar menambah ayat. Seperti itulah yang dijelaskan As-Suyuthi dalam Al-Itqan jilid II, hlm. 26, mengutip tulisan Az-Zarkasyi: “Tampaknya penulisan ayat tersebut boleh saja. Hanya ucapan oranglah yang mencegah (Umar melakukan) hal itu… Seharusnya ayat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran, ayat itu semestinya ditulis.” Ayat rajam ini juga pernah disebut-sebut waktu saya (pertama kali) belajar Ulumul-Quran di kampus

An-Naas dan Al-Falaq

Dinukil dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia membuang Surah Mu’awidzdzatain (An-Naas dan Al-Falaq) dari mushhafnya dan mengatakan keduanya tidak termasuk Al-Quran. (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 146; Ruhul-Ma’ani, jilid I, hlm. 24; Al-Itqan, jilid I, hlm. 79; Fathul-Bari, jilid VIII, hlm. 581)

195 Ayat Surah Al-Ahzab Hilang

Demikian riwayat dari Abdurrazaq yang berasal dari Tsauri, dari Zirr ibn Hubaisy yang berkata: “Ubay ibn Kaab telah bertanya kepada saya: ‘Berapa jumlah ayat yang kalian baca dalam surah Al-Ahzab?’ Saya menjawab: ’73 atau 74 ayat.’ Dia bertanya: ‘Hanya sebanyak itu? Pada mulanya surah tersebut sama panjangnya dengan Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat surah (ayat) rajam.’ Saya bertanya: ‘Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyinya?’ Dia menjawab: ‘Ayat tersebut berbunyi: Idzaa zanayaa asysyaikhu wasy-syaikhah farjamuu…’.” (Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Mushhanaf Abdurrazaq, jilid VII, hlm. 320; Muntakhab Kanzul-Ummal pada catatan kaki Musnad Ahmad, jilid II, hlm. 1) Ternyata ayat rajam tersebut tidak ada dalam Al-Quran, dan tampaknya sama seperti apa yang diucapkan oleh khalifah kedua bahwa ada ayat rajam.

Ada Surah seperti At-Taubah yang Hilang

Abu Harb ibn Abi Aswad meriwayatkan dari ayahnya yang berkata: “Abu Musa Al-Asyari berkunjung ke Basrah untuk menemui para qari di sana. Dia bertemu dengan 300 qari dan berkata kepada mereka: ‘Kalian adalah sebaik-baiknya penduduk Basrah dan qari mereka.’ Maka mereka membaca surah panjang seperti Al-Bara’ah (At-Taubah). Saya lupa surah tersebut. Akan tetapi beberapa ayatnya masih saya hapal, yaitu: …Law kaani li ibni Adam… Demikian pula kami pernah membaca surah mirip dengan satu surah yang diawali shabaha lillaahi. Saya telah lupa surah itu. Hanya beberapa ayatnya masih saya ingat. Di antaranya: Yaa ayyuhalladziina aamanuu limaa taquuluu… (Shahih Muslim, jilid II, hlm. 100; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Al-Burhan fii Ulumil-Quran, jilid II, hlm. 43)

Ayat Radha’ah yang Hilang

Dari Ummul-Mu’minin Aisyah yang berkata: “Di antara ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan adalah: “‘Asyru radha’aat ma’luumaat yuharramna… (Shahih Muslim, jilid IV, hlm. 167-168; Al-Bidayatul-Mujtahid, jilid II, hlm. 36; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 135)

Awal Surah At-Taubah Hilang dengan Basmalah

Dari Imam Malik: “Ketika awal surah Al-Bara’ah (At-Taubah) hilang, maka basmalah (bismillahirrahmaanirrahiim) pun hilang bersamanya. Padahal sudah pasti sebelumnya surah tersebut sama panjangnya dengan surah Al-Baqarah (Al-Itqan, jilid I, hlm. 65) Sebagaimana diketahui bersama bahwa At-Taubah merupakan satu-satunya surah yang tidak diawali dengan basmalah. Dan terlihat riwayat ini sesuai dengan riwayat sebelumnya bahwa 195 ayat surah At-Taubah hilang, sehingga panjangnya sama seperti Al-Baqarah.

Ayat Ali Mawla Mu’minin

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa Rasulallah kami membaca ayat yang berbunyi: Yaa ayyuharrasuul ballagh maa anzal ilayka min rabbika anna Aliyan mawlal-mu’minin wa in lam… (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 298; At-Tahmid fi Ulumil-Quran, jilid I, hlm. 261) Padahal dalam surah Al-Maidah ayat 67 tidak ada kata-kata Ali, dan kaum Syiah pun menolak adanya kalimat tersebut dalam Al-Quran.

Itulah sebagian riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim, insya Allah. Mohon maaf apabila ada kata-kata kurang berkenan.



TAHRIF DALAM LITERATUR SYIAH

Di antara isu yang menggelinding bersama dengan maraknya tuduhan tahrîf Al Qur’an atas Syi’ah adalah tuduhan bahwa Tsiqatul Islam al Kulain (rahmatullah ‘alaih) meyakini adanya Tahrîf pada Al Qur’an.

Para penulis Wahhâbi, seperti Ihsân Ilâhi Dzahîr, Ahmad Mâlullah, Abdurrahman az Zar’i dll. dan segaian kawan-kawan Ahlusunnah yang terinfeksi “virus Wahabisme” begitu bersemangat menyuarakan tuduhan itu.

Asal muasal tuduhan itu diambil dari segelintir ulama Syi’ah dari kelompok al Akhbâriyyûn.

Syeikh Ni’matullah al Jazâiri (salah seorang tokoh kelompok al Akhbâriyyûn) dan juga Syeikh Nuri ath Thabarsi (salah seorang tokoh kelompok al Akhbâriyyûn dan pengagum berat al Jazâiri) mengklaim bahwa al Kulaini adalah di antara ulama Syi’ah yang meyakini adanya Tahrîf !

Munculnya klaim adanya Tahrîf di kalangan kelompok al Akhbâriyyûn ini diprakarsai oleh Syeikh Ni’matullah al Jazâiri (1050-1112 H) kemudian direspon oleh Syeikh Nuri (1254-1320 H) dalam kitab Fashlu al Khithâb.

Tahrîr Mahalli an Nizâ’

Demi terarahnya pembahasan dan diskusi tentang masalah apapun yang hendak dibicarakan, adalah sebuah kewajiban bagi setiap pengkaji untuk menetapkan tema yang handak dibahas, agar pembahasan tidak melenceng dan keluar dari jalur dan tema sesungguhnya. Itulah yang disebut oleh para ulama dengan tahrîr mahalli an nizâ /memastikan tema apa yang sedang dipersengkatakan.

Dalam masalah kita ini, kita harus menetapkan terlebih dahulu apa yang kita maksud dengan tahrîf? Agar menjadi jelas apa yang sedang kita maksud dengan kata tersebut, sebab bisa jadi ia memiliki beberapa asumsi makna.

Dalam hal ini, secara ringkas, ingin saya katakan bahwa kata tahrîf dapat difahami dalam dua makna:

1- Tahrîf Ma’nawi.

2- Tahrîf Lafdzi.

Yang dimaksud dengan tahrîf ma’nawi ialah penafsiran dan pemaknaan yang keliru terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang menyimpang dari makna sebenarnya.

Tentu, tahrîf dalam pengertian ini benar-benar telah dialami oleh Al Qur’an! Betapa banyak penafsiran yang menyimpang dari makna sebenarnya yang dimaukan Allah SWT. Dzat Pemfirmannya.

Jadi tahrîf dengan makna ini tidaklah termasuk yang diperselisihkan, sehingga untuk sementara ini tidak perlu diperpanjang pembicaraan tentanggnya.

Adapun yang dimaksud dengan tahrîf lafdzi ialah perubahan yang dialamai oleh Al Qur’an, dalam bentuk terjadinya penambahan, atau pengurangan atau perubahan pada satu atau dua kata dalam sebuah ayat Al Qur’an atau perubahan pada penempatan letak surah-surahnya.

Tahrîf lafdzi yang diperselisihkan ialah terkait dengan terjadinya pengurangan sebagian ayat, perubahan i’râb kata atau perubahan para kata atau teks ayat, bukan pada adanya penambahan, sebab telah disepakati oleh semua pihak bahwa Al Qur’an terjaga dari penambahan.

Maka dengan demikian kita telah mengetahui apa yan dimaksud dengan tahrîf! Dan ketika ada seorang ulama atau satu golongan dituduh meyakini tahrîf maka yang dimaksud adalah tahrîf dengan makna ini bukan makna yang lainnya.

Klaim bahwa al Kulaini meyakini tahrîf juga harus dimaknai dengan makna ini. Akan tetapi sebelumnya perlu diperhatikan bahwa, selain klaim ini bertentangan dengan:

A) Kenyataan bahwa keyakinan tidak terjadinya Tahrîf adalah pendapat para pembesar Syi’ah yang mewakili pendapat resmi Mazhab (sebagaimana ditegaskan para tokoh Syi’ah, seperti Syeikh Shadûq, Syeikh Mufîd, Sayyid al Murtadha, Syeikh ath Thâifah ath Thûsi dll) sejak masa silam dan keyakinan adanya Tahrîf adalah keyakinan kaum syudzdzâdz, hal mana meyakinkan kita bahwa andai benar Tsiqatul Islam al Kulaini meyakini adanya tahrîf Al Qur’an pastilah pendapat beliau dipertimbangkan dan tidak mungkin para tokoh itu menegaskan bahwa pendapat resmi Mazhab adalah tidak adanya tahrîf dan “barang siapa menisbahkan kepada kami (Syi’ah) bahwa kami meyakini Al Qur’an semestinya lebih dari ini maka ia bohong” dan lain sebagainya.

B) Penegasan adanya ijmâ’ dari tokoh-tokoh Thâifah (Mazhab), seperti yang ditegaskan oleh Syeikh Ja’far Kâsyif al Ghithâ’, hal nama menguatkan dugaan bahwa al Kulaini termasuk yang menolak keyakinan adanya Tahrîf , sebab, andai tidak, pastilah mereka tidak mengklaim adanya ijmâ’ tersebut, sedangkan mereka mengakui keagungan dan ketokohan al Kulaini dalam mazhab.

Selain itu, kita perlu memperhatikan dasar-dasar klaim tersebut, dari siapa pun keluarnya klaim itu.

Untuk membuktikan kevalidan klaim bahwa para tokoh Syi’ah (di antaranya adalah al Kulaini) meyakini tahrîf Al Qur’an, diperlukan empat mukaddimah pasti, jika tidak terpenuhi maka ia adalah sekedar klaim yang tidak dapat diterima.

Pertama, Bahwa penulis kitab itu telah menyatakan dengan tegas dan menetapkan atas dirinya untuk tidak akan memasukkan sebuah hadis dalam kitabnya kecuali hadis shahih.

Kedua, Hadis yang disinyalir menunjukkan Tahrîf itu harus tegas maknanya sekira tidak dapat dita’wil atau dimaknai lain berdasar bukti-bukti aqliah dan naqliah selain makna Tahrîf .

Ketiga, Tidak adanya mu’âridh (nash yang menentangnya) yang dapat dijadikan pemaling makna dan atau status hadis.

Keempat, Bahwa penulis itu meyakini hujjiyah khabar wâhid (hadis selain mutawâtir).

Apabila keempat mukaddimah di atas terpenuhi maka kita berhak menisbahkan pendapat adanya Tahrîf kepada si penulis buku tersebut, jika belum terpenuhi maka kita belum berhak menisbahkannya.

Setelah itu, mari kita lakukan penelitian atas klaim bahwa al Kulaini termasuk yang meyakini Tahrîf Al Qur’an, apa bukti yang mereka ajukan? Dan apakah bukti-bukti itu telah memenuhi keempat unsur di atas?

Dari apa yang disebutkan, baik oleh Syeikh Ni’matullah al Jazâiri, al Faidh al Kâsyâni, Syeikh Nuri, dan yang kemudian dinukil oleh sebaian penulis Wahhabi ketika mereka membicarakan masalah ini, di antara mereka adalah Ihsân Ilâhi Dzahîr dalam kitab Asy Syi’ah wa al Qur’an dan Muhammad Mâlullah dalam asy Syi’ah wa Tahrîf al Qur’an, kita hanya akan menemukan tiga alasan:

1) Al Kuliani meriwayatkan banyak (?) hadis tentang Tahrîf .

2) Al Kulaini menshahihkannya/tidak mencacatnya.

3) Al Kulaini tidak menyebutkan hadis yang menentangnya.

Menukil Hadis Tidak Membuktikan Kayakinan Penukilnya

Adalah sebuah kesalahan dan bahkan mungkin kecurangan ketika kita menisbahkan kepada sekelompok ulama sebuah keyakinan/pendapat yang tidak pernah mereka nyatakan sendiri, melainkan berdasarkan sebuah atau beberapa hadis yang mereka nukil. Dan seperti telah berulang saya sebutkan bahwa menukilan sebuah riwayat tidak membuktikan keyakinan penukilnya, semala ia tidak menetapkan bahwa apa yang ia nukil itu shahih.

Dan demikianlah dasar penisbahan kayakinan adanya Tahrîf kepada para pembesar ulama Syi’ah, seperti al Kulaini, Ali ibn Ibrahim al Qummi dan al Ayyâsyi misalnya. Mereka menisbahkannya karena para tokoh itu meriwayatkan.

Apabila logika seperti ini yang dijadikan dasar penisbahan, maka tidaklah keliru jika ada yang mengatakan Imam Bukhari termasuk yang meyakini tahrîf, sebab ia telah meriwayatkan banyak hadis yang menunjukkan terjadinya tahrîf Al Qur’an!

* Apakah al Kulaini Meyakini Keshahihan Seluru Hadis al Kâfi?

Salah satu yang menjadi dasar penisbahan kayakinan Tahrîf kepada al Kulaini adalah anggapan bahwa beliau telah menetapkan bahwa seluruh hadis yang beliau koleksi dalam kitab al Kâfi-nya adalah shahih dan benar-benar disabdakan oleh para imam Ahlulbait as.

Akan tetapi, penisbahan itu tidak benar, karena ia dibangun di atas dasar mukaddimah yang tidak benar pula, sebab:

A) Al Kulaini tidak terbukti pernah menegaskan keshahihan seluruh hadis al Kâfi.

B) Bahkan terdapat bukti bahwa beliau tidak memastikan keshahihan seluruh hadis al Kâfi.

Untuk membuktikan hal ini, kita dapat merujuk mukaddimah al Kâfi yang beliau tulis.

Perhatikan apa yang beliau katakana:

إعلم يا أخي –أرشدك الله- أنَه لا يسع أحدًا تمييز شيئ مِمَا اختلف الرواية فيه عن العلماء (عليهم السلام) برَأيِه إلاَ على ما أطلقه العالمُ (عليه السلام) بقوله: أعرضوها على كتاب الله، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فردُوه. وقوله(عليه السلام): دعوا ما وافق القومَ فَإِنَّ الرشد في خلافهم. و قوله: خذوا بالمُجمع عليه، فإِنَّ المُجمع عليه لا ريبَ فيه. و نحن لا نعرف من جميع ذلك إلاَّ أقلَّه، و لا نجد شيئا أحوط ولا أوسع من رد علم ذلك كُله إلى العالم (عليه السلام)، و قبول ما وسع من الأمر فيه بقوله(عليه السلام): بِأَيِّهما أخَذْتم من باب التسليم وَسِعَكم.

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya tidaklah luas/boleh bagi seorang membedakan dengan pendapatnya sendiri sesuatu yang datang dari para imam as. berupa riwayat-riwayat yang berselisih, kecuali didasarkan atas apa yang disabdakan al ‘âlim (imam) as.: ‘Sodorkan riwayat-riwayat itu kepada Kitabullah (Al Qur’an) apa yang sesuai, ambillah dan yang menyalahi Kitabullah, tinggalkan!’ Dan sabda beliau as.: ‘Selisihi kaum itu (pengikut para penguasa) karena kebenaran berada pada menyelisihi mereka.’ Dan sabda beliau as.: ‘Ambillah yang disepakati, sebab yang disepakati itu tidak mengandung keraguan.’ Dan kami tidak mengetahui dari semua itu melainkan sebagian kecil, dan kami tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berhati-hati dan lebih luas dari mengembalikan semua itu kepada imam as., dan menerima perkara itu berdasarkan sabda beliau: ‘Maka dengan yang mana dari riwayat-riwayat itu kalian mengambilnya sebagai bukti kepatuhan itu boleh. ’

Beliau juga mengatakan dalam jawaban atas seorang yang meminta kepada beliau agar berkenan menulis sebuah kitab hadis yang merangkum semua cabang ilmu agama:

و قد يسَّر اللهُ – و له الحمد- تأليفَ سَأَلتَ، وأرجو أن يكون بحيث توَخَّيت. و مهما كان فيه من تقصير فلم تقصر نِيَّتُنَا فِي إهداء النصيحة.

“Dan Allah telah memudahkan penulisan apa yang enkau minta, dan saya berharap ia sesuai seperti yang engkau harap. Dan betapa pun di dalamnya terdapat taqshîr/ketelodoran maka niatan baik kami untuk memberi nasihat tidaklah teledor.”

Dalam kalimat mukaddimah di atas tidak terdapat kalimat yang dapat dijadikan bukti bahwa beliau menshahihkan seluruh hadis yang beliau koleksi dalam kitab al Kâfi yang beliau karang itu. Sebab apabila beliau meyakini keshahihan seluruh hadis al Kâfi, tentu beliau tidak akan menyebut-nyebut kaidah tarjîh hadis yang dibangun oleh para imam Ahlulbait as. dalam menyikapi riwayat-riwayat yang muta’âridhah (saling bertentangan) yaitu dengan menyodorkannya kepada Al Qur’an, dan mengambil hadis yang mujma’ ‘alaihi (disepakati).

Di samping itu kata-kata beliau (RH), “Dan kami tidak mengetahui dari semua itu melainkan sebagian kecil… , adalah bukti bahwa beliau tidak berani mamastikan datangnya seluruh hadis-hadis dalam kitabnya itu dari para imam as.

Dan andai kita mengatakaan bahwa seluruh hadis dalam al Kaîf telah diyakini keshahihannya oleh al Kulaini sendiri, maka hal ini belum cukup bukti untuk menuduh beliau meyakini Tahrîf , sebab penshahihan hadis tidak meniscayakan bahwa ia menerima petunjuk dan kandungan hadis tersebut.

Kenyataan ini dapat dibuktikan dengan, antara lain, Syeikh al Kulaini dalam al Kâfi-nya meriwayatkan hadis yang mengatakan bahwa yang disembelih oleh Nabi Ibrahim as. adalah Ishaq, bukan Ismail. Sementara dalam hadis lain beliau meriwayatkan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail bukan Ishaq.

Al Kulaini berkata, “Telah disebutkan dari Abu Bashîr bahwa ia mendengar Imam Abu Ja’far dan Imam Abu Abdillah as. mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ishaq. Adapun Zurarah ia mengatakan bahwa ia adalah Ismail.”[3]

Lalu apakah kita mengatakan bahwa seluruh hadis di atas shahih dalam pandangan al Kulaini? Dan apabila ia shahih (dalam arti wutsûq/percaya akan datangnya dari para imam as.), apakah kita dapat memastikan bahwa beliau meyakini kandungannya bahwa Ishaq-lah yang disembelih oleh Ibrahim as.? Jika jawabnya, ya, lalu apa yang harus beliau perbuat dengan hadis-hadis lain yang mengatakan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail? Atau kita akan mengatakan bahwa al Kulaini termasuk dari mereka yang tidak memastikan siapa dari kedua putra Ibrahim itu yan disembelih? Bukankah yang demikian itu bukti bahwa beliau tidak memastikan keshahihahn seluruh hadis al Kâfi?!

Jadi dengan demikian dapat dibuktikan bahwa anggapan/tuduhan bahwa al Kulaini meyakini Tahrîf Al Qur’an dengan dasar alasan bahwa beliau meriwayatkannya dan berdasar karena beliau meyakini keshahihan seluruh riwayat al Kâfi adalah belum memenuhi bukti dan tidak berdasar!

* Al Kulaini Meriwayatkan Hadis Yang Menolak Tahrîf

Anggap hadis-hadis yang diriwayatkan al Kulaini menunjukkan makna tahrîf dengan arti yang dipersengkatakan, akan tetapi hadis-hadis itu bertentangan dengan banyak hadis lain yang juga diriwayatkan oleh beliau dalam al Kâfi-nya. Dalam kitab al Kâfi, al Kulaini telah meriwayatkan banyak hadis yang membuktikan bahwa Al Qur’an yang beredar di kalangan umat adalah lengkap, dan terjaga dari pengurangan.

Hadis-hadis itu tersebar di berbagai bab yang beliau tulis, di antaranya pada bab Keutamaan pengemban Al Qur’an, Sesiapa yang belajar Al Qur’an dengan susah payah, Sesiapa yang menghafal Al Qur’an kemudian ia lupa, Pahala membaca Al Qur’an, Membaca Al Qur’an dengan melihat dalam mush-haf, Rumah-rumah yan dibaca di dalamnya Al Qur’an. Hadis-hadis tersebut jauh lebih kuat, lebih banyak dan lebih jelas petunjuknya.

Maka dengan demikian, berdasarkan kaidah tarjîh yang ditetapkan sendiri oleh al Kulaini maka apabila ada dua hadis yang saling bertentangan dan tidak dapat diharmoniskan dengan pemaknaan yang tepat, maka kaduanya harus disodorkan kepada Al Qur’an, yang sesuai dengannya kita ambil dan yang bertentangan harus dibuang!

Di bawah ini akan saya sebutkan sebagian darinya.

Al Kulaini meriwayatkan dari Al Fadhl ibn Yasâr dari Imam Ja’far as. beliau bersabda, “Rasulullah saw. bersabda:

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَاحِبَهُ فِي صُورَةِ شَابٍّ جَمِيلٍ شَاحِبِ اللَّوْنِ فَيَقُولُ لَهُ أَنَا الْقُرْآنُ الَّذِي كُنْتُ أَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَ أَظْمَأْتُ هَوَاجِرَكَ وَ أَجْفَفْتُ رِيقَكَ وَ أَسْبَلْتُ دَمْعَتَكَ إِلَى أَنْ قَالَ فَأَبْشِرْ فَيُؤْتَى بِتَاجٍ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ وَ يُعْطَى الأَمَانَ بِيَمِينِهِ وَ الْخُلْدَ فِي الْجِنَانِ بِيَسَارِهِ وَ يُكْسَى حُلَّتَيْنِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَ ارْقَهْ فَكُلَّمَا قَرَأَ آيَةً صَعِدَ دَرَجَةً وَ يُكْسَى أَبَوَاهُ حُلَّتَيْنِ إِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ ثُمَّ يُقَالُ لَهُمَا هَذَا لِمَا عَلَّمْتُمَاهُ الْقُرْآنَ .

“Pelajarilah Alqur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjumpai temannya (yang mempelajarinya) dengan bentuk seorang pemuda tampan yang pucat, ia berkata, ”Akulah Alqur’an yangmembuatmu tidak tidur malam, membuatmu haus di siang hari, membuat kering kerongkonganmu, dan membuat air matamu bercucuran…Maka bergembiralah! Lalu didatangkan untuknya mahkota dan diletakkan di atas kepalanya, ia diberi keamaanan dengan tangan kanannya dan kekekalan dengan tangan kirinya, dan dipakaikan untuknya dua baju indah, kemudian dikatakan kepadanya, ’Baca dan naiklah!’ Maka setiap kali ia membaca satu ayat ia naik satu dejarat. Dan kedua orang tuanya jika mereka mukmin akan diberi dua baju, kemudian dikatakan kepada keduanya, ‘Inilah balasan kalian mengajarinya Alqur’an.’”

Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far as., beliau bersabda:

الْحَافِظُ لِلْقُرْآنِ الْعَامِلُ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ.

“Orang yang menghafal Alqur’an dan mengamalkannya ia bersama malaikat yang mulia.”

Dan dengan jalur yang sama Al Kulaini meriwayatkan dari Imam Ja’far as. beliau bersabda:

إِنَّ الَّذِي يُعَالِجُ الْقُرْآنَ وَ يَحْفَظُهُ بِمَشَقَّةٍ مِنْهُ وَ قِلَّةِ حِفْظٍ لَهُ أَجْرَانِ

“Sesungguhnya orang selalu membaca dan menghafal Alqur’an dengan susah dan berat akan mendapat dua kali lipat pahala.”

* Klasifikasi Hadis-hadis Tahrîf Dalam al Kâfi

Pokok riwayat al Kulaini yang secara dzahir disinyalir menunjukkan tahrîf Al Qur’an dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok:

Pertama, Perbedaan bacaan para imam as. dengan bacaan yang berlaku umum.

Kedua, yang menunjukkan gugurnya nama-nama para imam as. dan semisalnya.

Kelompok pertama tentunya keluar dari bahasan kita, sebab ia tidak termasuk bagian tahrîf yang diperselisihkan.

Kelompok kedua, -angggap saja shahih seluruh jalurnya- ia dapat digolongkan sebagai ta’wil dan tafsir yang disampaikan para imam Ahlulbait as., ia adaalah bagian dari tanzîl seperti telah dibahas sebelumnya.

Selain dua kelompok di atas, kita tidak akan menemukan hadis yang menunjukkan tahrîf kecuali hadis yang menyebut bahwa jumlah ayat Al Qur’an adalah 7000 atau 17000 ayat, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Jadi adalah sangat tidak berdasar jika ada yang mengatakan bahwa al Kulaini telah banyak meriwayatkan hadis tahrîf dalam al Kâfi-nya.

Catatan : Al Akhbariyyûn adalah sebuah aliran pemikiran dalam mazhab Syi’ah yang menyebar dari kelompok mayoritas yang selalu mendominasi mazhab Syi’ah. Di antara pandangan kelompok Al Akhbariyyûn ini adalah pandangannya bahwa seluruh hadis dalam al Kutub al Arba’ah (Empat Kitan Hadis Standar Syi’ah; al Kâfi, Man Lâ yahdhuru al Faqîh, al Istibshâr dan at Tahdzîb) adalah shahih, persis seperti pandangan Ahlusunnah terhadap Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Kelompok ini mendapat penentangan keras dari pemuka Syi’ah sejak awal kemunculannya dan mendapat kritikan tajam dari paara pemikir dan ulama besar Syi’ah mayoritas (al Ushûliyyûn).



ULAMA’ SYIAH MEMBANTAH TAHRIF TERHADAP QURAN

Seorang ulama Syiah, Sayid Hasyim Ma’ruf Al-Hasani, pernah melakukan penelitian dan menyatakan bahwa Al-Kafi berisi 16.199 hadis; diantaranya 5.072 dianggap shahih, 144 hasan, 1128 nuwatstsa’, 302 qawiy, dan 9.480 hadis dhaif. Pengklasifikasian itu pun baru berdasarkan keabsahan sanad, belum isinya (matan).

Penolakan Tahrif (Perobahan) Al-Quran oleh Ulama Syiah

Abu Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Babawaih Al-Qummiy (Ash-Shaduq): “Keyakinan kita tentang Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ada di antara dua sisi kitab yang berada di tangan kaum Muslim dan tidak lebih dari itu. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa kami meyakini yang lebih dari itu, pastilah orang tersebut berbuat dusta.”

Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan Ath-Thusiy: “Pembicaraan tentang adanya penambahan dan pengurangan pada Al-Quran adalah sesuatu yang tidak pantas… Dan itulah yang sesuai dengan kebenaran dari mazhab kita. Itulah yang dibela Al-Murtadha (Imam Ali ibn Abi Thalib AS), yang tampak dari banyak riwayat…”

Abu Ali Thabarsi: “…Adapun tentang adanya penambahan pada Al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil…”

Sayid Ibnu Thawus: “Imamiyah yakin tidak ada tahrif dalam Al-Quran.”

Syaikh Muhammad ibn Hasan Al-Hurr Al-Amiliy: “Barang siapa mau meneliti tarikh, riwayat-riwayat dan atsar, maka dia tahu dengan pasti bahwa Al-Quran telah ditetapkan pada tingkat ke-mutawatir-an yang sangat kuat, dan dengan penukilan ribuan sahabat, dan bahwa Al-Quran telah tersusun dan terkumpul rapi pada masa Rasulallah SAW.”

Syaikh Abu Zuhrah: “Sejumlah ulama besar Imamiyah yang diketuai Al-Murtadha, Syaikh Thusi, dan lain-lain menolak…”

Ayatullah Sayid Burujerdi: “Merupakan suatu kemestian logis untuk menolak (tahrif) dan kabar-kabar yang menolak kemurnian ayat Al-Quran amat sangat lemah dan bertentang dengan hadis yang pasti (qath’i) dan mesti (dharurah), malah bertentangan dengan tujuan kenabian.Kemudian, sungguh sangat mengherankan adanya sebagian orang-orang yang mempertahankan kabar angin ini, lisan maupun tulisan yang tersimpan selama lebih dari tiga belas abad, yang menyatakan bahwa ada penghapusan ayat-ayat dalam Al-Quran Al-Majid.”

Allamah Syahsyahani: “Hadis-hadis ini tidak pantas diperhatikan bila ditinjau dari segi sanadnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ada satu ayat saja dari hadis itu yang shahih… Hadis-hadis ini bertentangan dengan hadis-hadis mutawatir yang lebih kuat, dan sesuai dengan Al-Quran, sunnah, akal sehat, dan kesepakatan.”

Imam Khomaini: “Lemah, tidak pantas berdalil dengannya.”

Dan masih banyak ulama-ulama Syiah yang menolak perubahan Al-Quran, seperti Zainuddin Al-Bayadli, Al-Muqaddas Al-Baghdadi, Kasyful-Ghitha, Sayid Muhammad Jawad Al-Balaghiy, Sayid Muhammad Thabathaba’i Bahrul-Ulum, Ayatullah Kuh Kamariy, Sayid Muhsin Al-Amin Al-Amiliy, Sayid Muhammad Mahdi Syirazy, dll. Oleh karena di dalam kitab Al-Kafi terdapat hadis yang lemah, maka juga terdapat periwayat (rawi) yang lemah. Seperti Abi Al-Jarud Ziyad ibn Mundzir As-Sarhub (pemimpin sekte Jarudiyah/Sarhubiyah), Ahmad ibn Muhammad As-Sayyari, Mankhal ibn Jamil Al-Kufi, Muhammad ibn Hasan ibn Jumhur, dll.

Itulah akidah Syiah Imamiyah terhadap Al-Quran yang tidak mengalami pengurangan atau penambahan hingga akhir zaman. Jadi apabila masih ada yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, itu merupakan hal dusta, dan lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa Jibril AS salah menyampaikan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Imam Ali AS. Pastilah kaum Syiah akan menertawakannya.

Al-Quran yang ada di Iran pun (yang notabene mayoritas Syiah) tidak sedikit yang didatangkan/dicetak dari Beirut (Lebanon) dan Kairo (Mesir). Iran pun mengadakan MTQ Internasional yang dihadiri negara-negara Timur Tengah, bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah mengirim wakilnya. Entah bagaimana jadinya jika Quran yang dibaca wakil Iran berbeda? Pastilah juri akan pusing menilainya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar